storyboard:

Fatshion Bloggers Make Plus-Size Chic

This story was produced in partnership with The Daily Beast.

Short of having a bucket of blood dumped over your head at prom, few things compare to the humiliation of being the only customer browsing the racks of an overpriced lingerie store and hearing the painfully chic saleswoman — who’d begrudgingly buzzed you in — loudly proclaim, “I wish people would realize we don’t stock sizes larger than a medium.”

Anyone who’s ever attempted to shop at a schmancy boutique in a body that’s larger than a size 10 already knows that buying big-girl garb requires a skin that’s nearly as thick as your waistline. Fat-loathing is the last acceptable prejudice, and nowhere is that more pronounced than in the world of fashion.

“I have a genuine hatred reserved for cut-out shoulders, drawstring waists, loud prints, cargo pants, waterfall cardigans and hanky hems,” says 28-year-old British blogger Lauren Ding. “It’s so difficult to find something that is not only my style, but that fits well.”

Which may account for the recent explosion of so-called “fatshion” blogging — the tag used by hordes of plus-size bloggers who are melding the two worlds. Until recently, fashion blogging had been the domain of straight-sized women. But sick of being ignored by fashion mags and relegated to sack dresses with screeching prints, a growing number of women — unapologetically plump, and tired of being treated like third-class citizens — are taking their musings online. They post OOTDs (outfits of the day) and ruminate on body positivity. Many of them, as a backdrop to skinny models storming the runways of New York Fashion Week, have started calling this month “Fatshion February” — and are blogging aggressively in its honor.

Read More

Senang Sekali

Nona Meta,

Saya senang sekali, saya tidak mengerti lagi bagaimana caranya menuliskan rasa senang ini. Senang, gembira, bahagia, luar biasa, semuanya terlihat sama saja karena mereka sedang lebur jadi satu menggedor ubun-ubun. Bagaimana ini? Saya harus menulis apa? Saya ingin menggambar pelangi, nona, tapi tulisan cakar ayam ini langsung menyadarkan saya bagaimana rusaknya jembatan menuju Valhalla itu nanti bila saya gambar. Ketika seorang anak mendatangi saya di taman, saya tadinya tidak menyangka bahwa dia akan memberi saya surat dari nona. Seandainya saya tidak melihat kue di tangannya dan remah-remah di sekitar bibirnya, saya sudah bepikir bahwa surat yang dia beri adalah surat tagihan permbayaran losmen.

Saya senang sekali, nona menyurati saya lagi. Selama ini saya merasakan kehilangan. Saya suka membaca kembali surat-surat nona yang terdahulu, hanya untuk mengingat kembali rasa yang saya rasakan setiap menerima surat nona. Mengisi lagi rongga kepala saya dengan bayangan suara-suara anda, menghangatkan setiap sudutnya. Memberi bahan bakar pada semangat saya bersama senyum-senyum riang di taman kota. Senyum gadis-gadis kecil, tawa para bocah-bocah itu berkekuatan sama dengan setiap kata-kata anda. Betapa, akhir-akhir ini saya menyanyi dengan nada-nada timpang, genjrengan cacat dan lagu-lagu temaram. Beberapa hari ini saya merasa abu-abu pada bunga-bunga taman kota. Ah, saya melantur dengan kebangetan.

Saya senang sekali toko anda tetap buka, saya senang sekali. Bayangkan jika toko nona tidak lagi buka. Berapa karyawan kehilangan mata pencahariannya? Berapa anak-anak harus menunda makannya? Berapa pelanggan yang mengeluh kehilangan? Tapi saya yakin, hanya satu orang yang amat kebingungan. Bingung mencari arah suratnya, bingung mencari arah pandangnya, seperti kompas yang tak menemukan utara.

Saya senang sekali, nona mendapatkan diri nona kembali. Semoga hari esok memberi nona banyak kesempatan untuk mencicipi rasa-rasa lain dari kue kehidupan. Jika ada kesempatan baik, saya ingin menemani nona mencicipinya.

Saya senang sekali, nona. Jika waktu berpihak, saya akan menghampiri kaca besar di tembok toko bittersweet, dan bernyanyi di depannya demi sebuah kue. Tapi jika nona ada luang, datanglah ke taman kota. Bunga-bunga di sana perlu warna-warna segar dan bahagia, mungkin senyum nona bisa menginspirasinya.

Salam,

 

 

Agni

Ibadah Baru

Nona Meta,

Saya tidak akan mengaku bahwa saya mengerti semua masalah nona. Saya juga tidak ingin meyakinkan nona bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, semua masalah nona adalah pengalaman khusus yang diserahkan kepada nona untuk diselesaikan.

Maaf jika saya lancang seperti menasihati, beberapa hari ini saya merenung. Iya, saya merenungkan sedalam-dalamnya kata-kata nona di surat sebelumnya. Tentang kejenuhan, tentang penunjukan diri anda sendiri terhadap anda atas segala kesalahan, tentang pemaksaan-pemaksaan kehendak yang anda kira orang-orang lakukan kepada anda.

Nona,

Tidakkah setiap orang menginginkan ruang untuk dirinya sendiri? Tidakkah semua orang merasa memiliki hak untuk mengatur keberadaannya di dunia? Selama hampir sepuluh tahun, saya memilih untuk menjadi diri saya sendiri dan menyenangkan diri sendiri, nona. Saya tidak pernah menyesal, karena ini pilihan saya. Nona sudah pernah mencobanya, dan saya melihatnya setiap hari. Nona adalah nyawa toko nona. Orang-orang di dalamnya–Joko, karyawan-karyawan nona–berkerja dengan bahagia di sana. Di setiap mata mereka ada api yang lebih hangat dari api di tungku-tungku yang mereka aduk.

Saya senang sekali bagaimana nona menggambarkan hubungan nona dengan kue-kue tersebut. Saya pun merasakannya. Seperti yang bagi saya, bernyanyi adalah ibadah. Pada setiap gesekan gitar saya, dan nada-nada yang berhasil saya dengungkan jadi irama, saya merasakan tuhan. Pada nyanyian-nyanyian gadis-gadis kecil dan genggaman-genggaman setiap pasangan yang lewat setiap saya menyanyikan lagu mereka, saya merasakan cinta. Membersihkan setiap bagian gitar saya, seperti merawat kekasih. Berolah raga setiap pagi untuk menjaga nafas dan jangkauan nada saya, jadi bagian setiap ibadah saya. Saya tidak peduli jika mereka bilang saya pengamen sunyi. Apa yang saya rasakan setiap hari bukanlah kesunyian. Saya merasakan bahagia setiap menghibur mereka, mungkin hal itu pernah nona rasakan juga.

Namun perbedaan kita adalah, saya sebatang kara; nona punya keluarga. Saya hanya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri, nona punya ikatan yang harus nona jaga. Dan saya pikir ikatan itu seperti sarang laba-laba, sementara nona kupu-kupu yang terperangkap menempel. Nona bisa saja meronta pergi, namun nona malah menunggu mati. Tidak, Nona. Saya bukan ingin menghasut. Hanya menyayangkan, sebuah toko kue yang berhasrat sepertinya akan berubah menjadi pabrik yang dikelola robot-robot. Pasti bukan itu yang nona mau.

Dan, nona sudah bertunangan. 

Bagaimana pun, dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya mendoakan yang terbaik bagi hubungan nona. Dalam setiap hubungan, pastilah selalu ada masalah yang mengguncang. Untuk wanita sedewasa nona, hal-hal seperti ini sudah bukan rahasia hidup lagi. Hal ini adalah hal-hal yang musti dihadapi. Semoga scarf yang kembali ke tangan nona tersebut, bisa merekatkan kembali nona dengan tunangan nona.

Nona, surat ini saya tulis dengan senyum yang dipaksakan. Sungguh sulit sekali menerima bahwa anda sudah bertunangan, namun lebih sulit lagi untuk tidak menulis kepada nona. Seandainya saya bisa jadi orang yang melindungi nona, atau meyakinkan nona bahwa semua akan baik-baik saja, atau melindungi nona dari kekhawatiran akan hal-hal yang mengancam kebahagiaan nona. Untuk sekarang ini, biarkan saya jadi kertas, tempat nona menumpahkan kata-kata. Dan nona tahu, bahwa setiap kata yang nona tuliskan, akan selalu mendapatkan tempat di pikiran saya. Membaca nona, kini jadi ibadah tambahan untuk saya.

Salam,

Pecandu kata-katamu,

Agni

Mengenai Kesibukan..

Nona Meta,

Hal-hal yang bernama kesibukan melakukan kegiatan yang kita cintai bukanlah hal-hal yang patut dimintai maaf. Apalagi, siapalah saya? Menerima surat-surat nona sudah merupakan keberuntungan bagi saya. Mereka adalah pupuk bagi bunga-bunga rindu saya, nona. Kadang datang tepat waktu, menyuburkan. Kadang tidak datang sama sekali, namun tetap bertahan menunggu. Aduh, saya meracau lagi. Mungkin begini jika terlalu senang hingga kesurupan kata-kata. Saya harus menjewer tangan saya yang terlalu nakal berkata-kata di surat-surat saya, takut kelepasan hingga salah kata.

Saya mengerti kesibukan nona akhir-akhir ini. Melihat antrian di depan toko nona, dan dus-dus yang akan dibawa Joko dengan motor tuanya itu selalu membuat saya tersenyum. Tentu saya membayangkan nona di dalam sana dengan cekatan membuat kue-kue, sambil memberi pegawai instruksi-instruksi untuk mereka. Sibuk, namun pasti menyenangkan bukan? Semoga semuanya berlanjut terus hingga toko nona sukses besar. Sungguh saya doakan itu setiap hari.

Kabar saya baik, Nona. 

Kemarin, beberapa anak-anak membawa gitar sendiri dari rumah untuk belajar gitar bersama. Tawa-tawa riang dan semangat belajar mereka menciptakan atmosfir yang luar biasa. Udara hari Minggu pagi tidak pernah sesegar itu untuk saya. Mereka meniupkan angin-angin yang menerbangkan gembira saya ke atap langit. Saya makin jatuh cinta kepada anak-anak. Meski beberapa dari mereka ada yang menyebalkan, namun menaklukkan rasa kesal sungguh jadi tantangan yang sangat menyenangkan. Orang tua mereka meminta saya mengajarkan mereka bermain gitar. Beberapa meminta saya langsung datang ke rumah mereka dengan iming-iming yang lumayan. Namun saya belum menerimanya. Bukan menolak, saya masih minta waktu untuk berpikir dulu, karena… saya takut tidak bisa mengajar dengan baik. Saya sendiri belajar gitar secara otodidak dan beberapa kunci-kunci gitar saya hanya ketahui dari buku, sementara orang yang dulu mengajari saya gitar sudah tidak tinggal di kota ini. Padahal, tawaran bapak-bapak itu lumayan untuk menambah tabungan saya.

Nona, jika nona memang sibuk, janganlah menjadikan membalas surat-surat saya sebagai prioritas. Nona punya kewajiban dan tanggung jawab yang jauh lebih penting daripada membalas surat-surat ini, tentunya nona tahu itu–dan sayalah yang harus mengerti posisi saya.

Dan satu lagi, ingatlah batas lelah nona, beristirahatlah. Jatuh sakit (biasanya) membuat lidah mati rasa, nanti nona tidak bisa mencicipi racikan kue dengan baik. Saya bukan siapa-siapa, tapi mengingatkan nona sepertinya bukan hal yang buruk. Maaf jika lancang.

Salam hangat,

Genjrengers Lampu Jalan

Akhirnya..

Yang terhormat, Nona Meta,

Seandainya nona tahu bagaimana penantian saya untuk surat balasan nona datang lagi ke tangan ini. Saya pikir nona sudah tidak mau lagi membalas surat saya, dan berbagai macam pikiran datang kepada saya membuat saya bingung sekali. Tahukah nona perasaan yang nona timbulkan? Ada badai gelisah yang melanda saya hingga tidak tahu arah. Karena itu, hampir saja saya melaporkan anda ke pengadilan dengan tuntutan perbuatan tidak menyenangkan. (Hahaha, oke yang ini saya becanda..)

Senang sekali menerima surat anda kembali,

Selama seminggu ini, Joko tidak mau memberi tahu kemana anda pergi. Entah dia tidak tahu, atau dia tidak mau memberi tahu. Semuanya mengamplifikasi rasa penasaran saya. Untuk beberapa kali saya menyusuri sudut kota hingga pagi, hanya untuk menemukan hal-hal yang sama sekali bukan nona. Bagaimana ini? Saya sempat bingung sendiri dengan perasaan ini. Padahal kita selama ini hanya bertukar cerita lewat tulisan. Jangan-jangan tulisan anda sudah jadi candu bagi mata saya.

Aduh, apa-apaan ini, maafkan jika kata-kata saya barusan kurang berkenan. Saya turut bahagia atas pernikahan saudara nona. Semoga suatu hari nona bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan saudara nona tersebut. Semoga bisa memberi kebahagiaan lebih dari kebahagiaan nona meracik kue-kue. Begitulah yang saya rasakan tiap menghibur di taman kota; lelah dan dahaga selalu terhapus oleh senyum-senyum yang gembira atau mereka-mereka yang bernyanyi bersama. Hal-hal seperti ini yang membuat kita selalu bertahan menepis lelah. Ah, luar biasa sekali jika nona menyukai perasaan seperti itu. 

Nona Meta,

Saya menantikan hari-hari kita akan bertukar cerita secara langsung. Semoga nanti Sang Maha Rencana menuliskannya untuk kita.

Salam,

Shakuntala Agni


Cemberutmu karena kekasihmu, biar kudaur jadi pelangi di langitku.
Bangku dan Lampu Jalan

Nona Meta,
Lagi-lagi anda melahirkan gempa bumi. Saya tidak bohong, getaran itu masih ada hingga kini-dan sekarang bertambah lagi karena balasan surat anda datang lagi. Bila anda tahu bagaimana Joko terbahak-bahak melihat saya gemetar ketika membaca surat anda kemarin, anda pasti mengerti. Dari awal kesadaran saya bisa menulis dan berkata-kata, saya tidak menyangka bertukar cerita lewat surat ini bisa sedemikian mengasikkan. Bila bertukar cerita lewat tulisan saja sudah sesenang ini, saya penasaran sekali apa jadinya jika melakukannya lewat suara.

Sayang sekali kemarin saya absen menyanyi di taman. 
Ada sebuah urusan di pusat kota yang baru selesai siang hari. Karena itu pula surat saya titipkan kepada Joko pagi-pagi. Sesungguhnya saya pun sekali ingin bertemu dengan nona, lebih sering dari tulisan-tulisan saya. Ah, sekarang saya iri sekali dengan mereka, menyapa mata nona yang indah, menggelitik perasaan anda dan membuat anda tertawa lebih dulu daripada si empunya. Mereka pasti sedang mengejek saya sekarang.

Sebenarnya dalam beberapa kesempatan saya sering mengamen di seberang toko nona, di bawah lampu jalan, di sebelah kursi panjang. Namun toko nona selalu tutup sebelum matahari terbenam, sementara saya baru rampung dari taman kota. Setiap hari saya selalu datang ketika Joko sudah selesai bersih-bersih dan toko nona sudah kosong. Biasanya kami ngobrol sebentar di kursi menunggu lampu jalan dinyalakan, baru saya mulai mengamen hingga malam. Hal ini lebih sering saya lakukan ketika senja hingga malam karena, umn, saya suka suasananya. Lampu jalan remang-remang, dan orang-orang yang berjalan lalu lalang. Ada yang kelelahan sepulang kerja, beberapa tersenyum membayangkan orang-orang tercinta mereka di rumah. Ada pula pasangan yang saling mengamit lengan dalam sebuah kencan. Nah, suatu kali ada seorang penjaga toko kue yang cantik menyeberang dari tokonya dan melemparkan beberapa koin ke peti gitar saya. Dia tersenyum kepada saya sembari melingkarkan scarfnya di leher kemudian berjalan menjauh dan menghilang di balik belokan. Ah, nona pasti sudah lupa, tapi tidak apa, siapalah saya saat itu.

Nona Meta,

Mungkin nanti, nona, jika pertemuan sudah cukup kuat untuk ditakdirkan lagi, kita bisa bicara. Untuk sekarang, ijinkan saya tetap mengikat diri dengan penasaran, dan semoga anda masih nyaman untuk dikagumi dari jauh.

Salam genjreng,

Agni

image

street bench musician

meta nikalanta: Berlebihan

metanikalanta:

Halo Agni,

Saya tidak menyangka surat balasan Anda datang begitu cepat. Jika begini terus, lama-lama saya tidak dapat melewatkan sehari pun tanpa membaca surat Anda. Apakah Anda tahu bahwa Anda begitu senang melebih-lebihkan? Anda terlalu berlebihan memuji saya.

Seharusnya saya mendiamkan saja…

Sore Kedua

“Mas, ono rokok sak bungkus?”
“Ngga ada, Mas Jok, piye?”
“Ndak apa, maunya aku barter,”
“Sama apa?”
“Sama iki,” Mas Joko tersenyum menyebalkan dengan menggoyang-goyangkan kertas yang terlipat di tangannya. Aku tahu apa itu. Aku tahu aku menginginkannya. Dan Mas Joko pun tahu benar itu hingga berani meminta sebungkus rokok kepadaku. Sial, licik benar temanku ini.
“Oke, aku beli dulu, jagain gitarku ya,” kataku kepada Mas Joko. Dia mengangguk. Senyum yang menampakkan giginya yang kuning itu sungguh menggelikan. Tidak, tidak menjijikkan, tapi menggelikan. Membuat aku tertawa-tawa sendiri sesungguhnya.
“Tapi itu beneran ya, bukan bohong?” Tanyaku sekali lagi, memastikan. Aku meletakkan gitarku di case hitamnya ketika dia menjawab setengah ngambek, “Yo wes kalo ndak percaya, aku balikin aja sama yang ngasi,” sambil memutar-mutar kertas itu di udara.
“Iya, iya, jangan! Sek, aku nak ke warung dulu!”

Perlu 10 menit untuk pulang-pergi dari tempat kami ke warung terdekat. Sepanjang jalan aku membayangkan apa yang akan kuterima. Banyak rasa, campur aduk, seperti warna pelangi yang terbiaskan lagi di langit, terpantul ulang lagi di laut. Ah, melantur.

Setengah berlari aku menahan hal-hal yang membuatku tak sabar. Penjaga warung hanya mengangguk saja ketika aku mengambil sendiri sebungkus rokok dan menyerahkan beberapa ribuan kepadanya. Jika kurang dia akan minta besok. Langganan.

“Nih, Mas. Mana?” Aku serahkan sebungkus rokok yang Mas Joko minta. Dia menyerahkan kertas itu dengan cepat, menukarnya dengan rokok di tanganku.

Aku kemudian duduk, membuka lipatan kertas itu, membaca sebuah tulisan yang jauh lebih bagus dari tulisan Mas Joko yang cakar dinosaurus–menghapus keraguanku bahwa itu ditulis Mas Joko untuk mengerjaiku. Aku menoleh ke sebelahku, Mas Joko dengan terampil membuka rokok yang kuberikan.

“Sampeyan kok curiga gitu sama saya? Udah dibantuin nganterin surat juga, masak masih ga percaya?” Gerutunya sambil memelintir kretek di tangannya, yang kemudian dia nyalakan setelah nyempil di mulutnya.

“Hehehe, maaf toh mas, siapa suru suka ngisengin aku,” jawabku cengengesan. Kemudian aku mulai membaca tulisan di surat itu. Tanganku gemetar, kakiku menjahit trotoar dengan suara-suara benturannya dengan sepatuku. Suara tawa Mas Joko yang terbahak di sebelahku perlahan seakan menjauh. Tidak, Mas Joko masih di sebelahku tertawa-tawa. Aku yang larut ke dunia lain. Dunia kata-kata.

Halo Shakuntala Agni..